Kau
dan aku pernah menulis janji di dahi waktu,
namun
angin merobek helaian mimpi itu.
Setiap
tawa berubah jadi bisu,
setiap
pelukan jadi ruang yang kosong menunggu.
Jika
tak lagi searah, biarkan jadi sejarah,
biar
kenangan mengering di tepian hati.
Tak
perlu lagi kita mendayung pada arus yang salah,
lepaskan
saja, biarkan luka mengerti arti pergi.
Ada
sisa baumu di bantal yang kukunci,
ada
melodi sedih yang terus berulang.
Kutitip
rindu pada malam yang tak peduli,
kututup
buku kita dengan tangan yang gemetar.
Kita
pernah seirama, menari di antara debu,
tapi
langkahmu hilang ketika fajar menjerat.
Kini
aku berdiri di persimpangan waktu,
mencari
wajahmu di sela-sela berharap yang patah.
Jika
tak lagi searah, biarkan jadi sejarah,
biar
musim berganti tanpa namamu di bibir.
Kubiarkan
semua kata yang tak sempat terucap,
mengendap
jadi abu, hilang tanpa saksi.
0 Comments